Sebuah Mimpi di Pelabuhan – A Short Story

It has been a while since my last post. During the hiatus period, I have been dealing with many things. Many, many exams; my high school graduation; and suddenly I am going to be a university student in a week. Nevertheless, I did finish a short story inspired by my high school graduation’s theme, “Maiden Voyage”. Since it is written in Indonesian, I will not expect non-Indonesian readers to be able to read it.

Yet, this is a tale in a harbor, written in combined first and second-person perspective, about maiden voyages and dreams. Enjoy!

***************************************************************************

Kepada sahabat,
di sinilah titik di mana kita harus berpisah,
menaiki kapal yang berbeda ke tempat tujuan masing-masing.
Namun, sebelum laut pasang dan layar membentang, ada yang ingin ku sampaikan.
Dengarlah perkataan kawanmu ini, karena mungkin kita takkan berjumpa lagi selama perjalanan.

Hai kawan, ingatkah engkau akan perjumpaan pertama kita di pelabuhan ini? Aku masih dapat membayangkan dengan jelas raut wajahmu yang penuh dengan keingintahuan dan optimisme. Kau memperkenalkan dirimu dengan bersemangat, tetapi sopan. Mungkin saja kau tidak merasakannya, namun, ketika aku berjabat tangan denganmu, aku merasakan getaran hangat di sekujur tubuhku. Aku mempunyai firasat, persahabatan ini akan melahirkan suatu hal yang mengubah dunia, sesuatu yang mengejutkan sekaligus berguna bagi semua orang. Mungkin pelayaran dan perjalanan kita kelak akan dikenang sebagai legenda, pikirku.

Ingatkah engkau akan sebuah badai di bulan Januari, entah berapa tahun yang lalu? Malam itu dingin dan berangin kencang, membuat semua orang terjaga. Di tengah buruknya cuaca, kau mengumpulkan teman-temanmu – teman-teman kita – di mercusuar, mengelilingi sebuah api unggun. Badai, yang seharusnya mengguncang dan menghanyutkan kapal, justru memercikkan api persahabatan kita semua. Teman-teman berubah menjadi sahabat-sahabat. Kita membagi mimpi-mimpi kita dalam sebuah percakapan di tengah-tengah gemuruh topan. Saat itulah, bagaikan api unggun yang menghangatkan tubuh di malam yang dingin itu, kita saling membakar semangat dan impian masing-masing.

Sejak saat itu, kita semua bekerja dengan sangat keras. Belajar dari para pembuat kapal terbaik, menimba ilmu untuk membangun sebuah kapal yang berlayar mengelilingi dunia. Setiap dari pada kita mempunyai tempat tujuan dan keahlian yang berbeda-beda, tetapi kita disatukan oleh satu buah niat: memperlihatkan kepada orang di pelabuhan-pelabuhan tujuan kita bahwa kehidupan bukan hanya untuk diri sendiri; bahwa hidup akan lebih bermakna jikalau kita bisa menyentuh kehidupan orang lain dan bersama-sama bertumbuh menjadi orang yang lebih baik, demi kemuliaan sang Khalik. Kita bagaikan sebuah tubuh yang berfungsi dengan baik jikalau semuanya bekerja secara maksimal untuk memenuhi suatu tujuan. Ingatkah kau akan analogi yang kau sebutkan sendiri?

Tetapi, apa daya, tidak ada semangat manusia yang tidak pudar. Tantangan-tantangan muncul di hadapan kita. Terlalu banyak yang kita hadapi hingga hampir mustahil untuk dapat mengingatnya satu per satu. Ketidakmampuan kita untuk mempelajari cara mengemudi kapal yang baik menyulitkan kita. Angin ribut yang terlalu kuat membuat kita gentar. Kita menemui banyak amukan ombak yang hebat, seakan mengingatkan bahwa laut bukanlah tempat bagi manusia. Ia tidak bisa ditaklukkan umat manusia, karena ia adalah keberadaan yang setua dan sepurba bumi sendiri.

Pada awalnya, kau masih bersemangat dan menyokong moril kita semua. Kau mengatakan hal-hal seperti api semangat yang jikalau mengecil dapat tertiup kembali menjadi api yang besar, mengingatkan kita tentang pulau-pulau impian tempat tujuan masing-masing, dan lain sebagainya. Walaupun begitu, kau melupakan satu hal: api kecil yang ditiup bisa juga padam tak berbekas.

Sejujurnya, aku mulai khawatir ketika melihat sebuah ekspresi sepintas di wajahmu. Kau sedang berlatih membuat tiang kapal saat aku merasakan keraguan dalam air mukamu. Sahabat-sahabat kita mungkin saja tidak mengamati perilaku orang lain dengan seksama, tetapi aku tidak begitu. Kau mulai gentar, dan sejak saat itulah keadaanmu bertambah parah.

Kita tidak lagi membicarakan, apalagi berusaha untuk mewujudkan, cita-cita kita. Kau lebih banyak diam atau berperilaku konyol tentang hal-hal sepele yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan mimpimu. Tidak ada lagi pidato mengenai semangat ataupun diskusi mengenai apa yang harus kita lakukan untuk menguasai suatu pelajaran.

Padahal, kau adalah pemimpin kami. Kau dulu mempunyai visi. Standar. Idealisme. Semangat dan moril yang meyakinkanku dan sahabat-sahabat kita bahwa kaulah orang yang patut kami teladani.
Seorang bijak pernah berkata, “Seorang yang tidak memiliki tujuan lebih menyedihkan dibandingkan orang yang tidak memiliki harta benda.”

Ke manakah visimu itu? Hilang ditelan lautkah, orang yang kukagumi itu?

Aku termasuk beruntung, ketika aku diberikan anugerah dan kekuatan untuk tidak menyerah. Mungkinkah semua kualitas dalam dirimu berpindah tangan kepadaku? Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Aku masih seperti aku yang dulu: introvert, tidak pandai bicara, dan hanya terpaku pada mimpi-mimpi dan tugas-tugas di tangan.

Sayangnya, tanpa ku sadari, aku mulai menjauh dari perkumpulan kita. Aku kira kita semua berubah, tetapi ke arah yang berbeda-beda. Kau beserta sahabat-sahabat kita menyibukkan diri dengan hal-hal yang kurang berarti dan tidak serius dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian terakhir: membuat kapal sendiri dan berlayar di atasnya dari pelabuhan ini sampai ke pulau seberang. Aku berusaha mengingatkanmu dan sahabat-sahabat kita dengan tanpa henti dan tanpa kenal lelah. Sambil berlatih sebaik mungkin, aku berusaha menyemangati kalian seperti yang dulu kau lakukan. Saat itu, usahaku sia-sia. Kalian semua diam tidak bergeming dan malahan berbalik memperolokku. Akhirnya, jarak yang ada benar-benar tidak bisa dihapuskan lagi. Setiap dari pada kita telah memilih jalannya sendiri.

Dan, tibalah hari ujian terakhir itu. Kayu, paku, amplas, gergaji, dan alat-bahan lainnya telah disediakan cukup bagi setiap orang. Namun, kita boleh menambahkan bagian-bagian kapal sesuai dengan rancangan yang telah kita buat. Kulihat hanya segelintir orang yang merancang kapal mereka dengan serius. Kebanyakan dari kita tidak berusaha dengan sepenuh hati. Mereka, termasuk kau, mengerjakan kapal dengan seadanya. Kurasa itulah yang disebut sebagai buah dari ranting yang patah.

Sekitar dua bulan dari hari dimulainya ujian, seharusnya semua kapal telah selesai dibuat dan telah siap untuk berlayar. Puluhan layar dipasang dan dibentangkan, menunggu aba-aba dari para guru. Beberapa kapal, termasuk diriku, menyalakan motor pendorong yang telah disesuaikan untuk kapal dan dipasang di buritan. Sebagian besar kapal, di sisi lain, hanya mengandalkan tenaga angin dan dayungan.

Uji Pelayaran Perdana pun berlangsung. Beberapa kapal tenggelam dalam perjalanan, tetapi hampir semua kapal tiba di pelabuhan pulau seberang dengan selamat. Meskipun begitu, waktu tempuh rata-rata ujian ini sangat tipis dengan batas normal. Untungnya, beberapa kapal yang tiba paling cepat mencatatkan rekor waktu perjalanan, melegakan hati para guru akan keberadaan penerus-penerus mereka. Guru kepala menyatakan kita semua lulus dan mempersilahkan berlayar ke manapun yang kita mau dengan kapal kita, sambil mengungkapkan harapan guru-guru agar kita dapat menimba lebih banyak ilmu di tempat tujuan kita.

Sahabat, tibalah kita di sini, di dermaga tempat kita akan berlayar sendiri-sendiri. Aku mempunyai beberapa pertanyaan dan perkataan terakhir. Dengarkanlah dengan seksama, karena melalui kata-kata ini kita berpisah. Apakah tempat tujuanmu telah berubah dari yang kau rencanakan? Apa yang kau inginkan dari dan dalam hidupmu? Sudahkah kau pikirkan mengenai masa depan sematang-matangnya? Jawablah kepada dirimu sendiri, sahabat, karena pelayaran perdana kita akan segera dimulai. Akan jadi apa diri kita dan mimpi-mimpi kita, semuanya dimulai dari pelayaran ini, di sini, di pelabuhan ini.
Sampai jumpa, sahabat. Semoga suatu saat dalam perjalanan, kita dapat berjumpa lagi, dan semoga pada titik pertemuan itu kita semua telah mewujudkan impian-impian kita.

Selamat tinggal, untuk saat ini. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s